Teachers Training

 

J47-462525

Pre School Teacher

Teachers Training merupakan kegiatan pelatihan bagi para guru dalam meningkatkan pemahaman akan pendidikan anak sehingga mampu memberikan dasar-dasar bagi pembentukan pribadi yang berkarakter.

 

Dengan mengikuti Teachers Training dari T.R.E.E, banyak keunikan dari anak-anak yang akan terjawab. Karena kami percaya bahwa setiap anak mempunyai potensi untuk berkembang menjadi yang terbaik (the best she/he can be).

Melalui Teachers Training ini, guru-guru akan diajak memahami potensi setiap anak melalui multi-intelegensia, yaitu 10 macam kecerdasan anak.

 

Training ini berlangsung secara kontinyu selama 6 bulan pertama dan akan dilanjutkan secara berkesinambungan disertai proses monitoring-evaluasi berkala/periodik.

Materi training mencakup resources seperti Teacher’s Guide, Buku, lagu, film, dsb.

Untuk info lengkap hubungi kami: https://treecon.wordpress.com/hubungi-kami/

“Summer Vacation”

Seperti biasanya ketika memasuki bulan Juni dan Juli ini begitu banyak orang tua mempunyai rencana untuk berlibur. Mengingat pada dua bulan ini adalah masa liburan sekolah. Itu berarti banyak waktu luang dan bersenang-senang untuk anak-anak.

Namun hal ini bukan berarti bahwa anak-anak harus kehilangan semuanya (pelajaran) yang telah dipelajarinya selama setahun belakangan. Karena di hari-hari yang “malas” (lazy days) dan panjang ini memiliki RESIKO terhadap anak-anak di usia sekolah.

Di masa liburan sekolah kenaikan kelas (level) ini, bisa menurunkan tingkat kecerdasan anak-anak. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa jika otak anak-anak dibiarkan “stagnant” tanpa tantangan (challenge) selama liburan sekolah, mereka dapat kehilangan sekitar 2,6 bulan kemampuan yang telah dimilikinya di bidang matematika. Bahkan kemampuan membacanya dapat hilang secara keselurhan.

Penelitian lain telah menunjukkan bahwa pada murid yang sedang-sedang tingkat kecerdasannya (tidak terlalu pintar) akan mendapatkan nilai lebih buruk (lower score) pada tes/ujian standar yang diberikan pada akhir masa liburan dibanding tes/ujian yang sama jika dilakukan di awal liburan.

Tentunya orang tua turut mempunyai tanggung jawab besar akan hal ini. Sudah saatnya masa liburan sekolah tidak selalu harus bersenang-senang tanpa makna. Terlebih di masa krisis financial. Sehingga biaya liburan yang dikeluarkan pun bisa sesuai dengan hasil yang di dapatkan.

Banyak tempat liburan yang juga menawarkan sisi edukasi di samping hiburannya. Atau banyak sekolah yang menyelenggarakan semacam “Holiday School Program,” yang berisi kegiatan yang “fun” namun tetap mendidik. Seperti juga yang akan diselenggarakan oleh TRAINING ENGLISH EDUCATION (T.R.E.E) yang menyelenggarakan:
School Holiday Program
Bertempat di:
MOM’S FAMILY FUN PLACE, Jl. Maleo, Bintaro Sektor IX, Tangerang.
Kegiatan ini berlangsung pukul 10.00 – 13.30 WIB.

Banyak kegiatan yang menyenangkan namun tetap edukatif yang dilakukan tentunya seperti: Cooking, Science, Quiz, Drawing/painting, Art & Craft, Music, Dancing, Brain Gym, Story Telling, dan masih banyak lagi.

Untuk Para orang tua pun bisa turut bersenang-senang di tempat ini karena di MOM’S FAMILY FUN PLACE menyediakan ruangan-ruangan yang bisa dipakai untuk ber-KARAOKE ria, sambil menunggu anak-anak yang sedang beraktivitas.
Bahkan pada kami mengadakan PARENTING SEMINAR & WORKSHOP dengan tema: “Rahasia Mengoptimalkan Buah Hati Anda Sejak Dini” yang dapat menambah wawasan yang tidak sedikit dalam memahami pertumbuhan dan perkembangan anak.

Please check out:

Play

Play is a powerful and effective medium for a young child’s total development and learning.

www.momsfamilycafe.com

Memilih Mainan / Aktivitas untuk Anak

MTN029

Rings

Banyak ortu mungkin belum memahami pentingnya mainan/aktivitas untuk anak. “PLAY” atau bermain ya.. main, cuma itu. Apa betul begitu?
Permainan semestinya tidak sekedar bermain tanpa makna, melainkan kegiatan yang berbasis pada kegiatan “multi-sensory” anak. Artinya bermacam kegiatan yang melibatkan “senses” anak. Senses di sini bukan sekedar panca indera, lebih dari itu pikiran dan perasaan anak juga layak ikut bermain.

Memilih mainan untuk anak sangat penting untuk stimulasi perkembangan anak. Kami percaya bahwa bermain adalah media yang sangat kuat dan efektif bagi anak untuk pembelajaran dan perkembangan anak secara total. Melalui permainan edukatif dan kreatif, anak-anak akan merasakan kesenangan dan kepuasan dalam belajar. Terlebih jika ortu ikut berinteraksi dengan anak, sehingga tercipta suasana (environment) yang “supportive” bagi anak, untuk mengekspresikan diri, berkreasi, dan mengembangkan konsentrasi, di saat yang sama.

“Ah itu urusan sekolah…”
Apa iya…?
Mari kita bandingkan. Anak pergi ke sekolah hanya menghabiskan waktu 3 jam (atau lebih sedikit) saja. Berapa jam anak beraktivitas di rumah? Hitung sendiri.
Jika membiarkan waktu anak terbuang percuma di rumah tanpa kegiatan yang bermakna, ditambah suasana di rumah yang kurang kondusif untuk perkembangan anak, apa yang terjadi?
Anak akan menyerap dan meniru apapun yang dilihat/didengar, seperti perilaku “mbak” dan siapapun yang ada di rumah, termasuk dari sinetron (televisi).
Mungkinkah membuat lingkungan rumah menjadi lebih kondusif untuk perkembangan anak secara lebih baik? Kenapa tidak.

Kalau pun banyak hal yang belum bisa berubah pada “environment” di rumah, paling tidak kita selalu meninggalkan aktivitas positif untuk kegiatan keseharian anak. Apakah anak itu akan betah berlama-lama dengan mainan/ kegiatan edukatif yang kita tinggalkan atau beralih melakukan kegiatan lainnya, itu hal lain. Yang penting adalah kita telah melakukan “parenting” kewajiban kita mendidik anak di rumah. Durasi anak dalam bermain / mewarnai atau menonton DVD edukatif lainnya mungkin hanya sebentar. Namun kalau itu dilakukan setiap hari, apa yang akan terjadi? “You will surprised!”

Musik Klasik membuat anak cerdas. Bukan berarti musik klasiknya yang membuat anak cerdas (“come on...”). Anak sangat menggemari musik atau suara-suara indah. Yes! Dan musik klasik adalah produk dari “kecerdasan musikal”  para komposernya. Praktis apapun produknya (entah itu musik atau yang lainnya) jika berasal dari buah kecerdasan baik musikal, spiritual, linguistik, kinestetik, dll. (ada 10 macam kecerdasan), akan turut mencerdaskan para penikmatnya, yaitu anak.

Dongeng, bukan sekedar cerita dengan pesan moral tertentu yang bisa membuat anak cerdas. Lebih dari itu adalah “kecerdasan linguistik” si pembaca dongeng tersebutlah yang mencerdaskan anak. Coba saja bacakan Shakespeare pada anak dengan intonasi yang lembut tentunya (dengan bahasa Inggris bahkan). Bukan berarti anak itu akan mengerti istilah-istilah Shakespeare, namun kecerdasan linguistik Shakespeare-lah yang membuat anak terbuai dengan prosa nan indah tersebut.
Itu baru karya Shakespeare. Bayangkan jika nak dibacakan firman-firman Tuhan. “You will amazed.”

Pernah melihat anak anda terkesima dengan Adzan? Ya itulah buah dari kecerdasan spiritual.

Pernah terpikir mengajakrkan anak tentang Galaxy?
“Ah, anak mana ngerti..”
Siapa bilang?
Telah disebutkan bahwa apapun karya dari sebuah kecerdasan akan turut mencerdaskan anak. Maka Maha Karya Tuhan yang Maha Agung itulah yang semestinya diperkenalkan lebih dulu kepada anak untuk mengenal Sang Pencipta. So please find DVDs about galaxy or planets.
Ortu juga bisa membuat “glow in the dark” bintang-bintang yang bisa digantung atau ditempelkan di kamar anak, dan bentuk seperti gugusan bintang atau galaxy.

Aktivitas lainnya yang bisa dilakukan adalah “membuat galaxy.”
Caranya:
1. masukkan pewarna makanan ke dalam minyak goreng ke dalam botol plastik bening. jangan sampai penuh (seperempat saja)
2. masukan pewarna makanan (warna yang berbeda) ke dalam air, aduk hingga merata.
3. campurkan air dan minyak yang telah berwarna tersebut ke dalam satu botol, lalu kocok atau putar2
Hasilnya akan seperti galaxy / nebula.

Ortu pun bisa membeli bermacam warna cat (disarankan yang mudah hilang terkena air), terutama warna merah, biru, kuning, hijau, lalu campurkan semua warna tersebut pada sebuah karton. Make it fun. di acak-acak, bisa dngan kuas, bola, balon, sponge, atau bahkan dengan tangan. lalu biarkan hingga kering.
Tahap terakhir adalah membentuk/menggunting “lukisan abstrak” tersebut menjadi bentuk planet atau benda2 langit lainnya.
Selamat mencoba.

Erri Subakti

Bermainlah Dengan Anak

as966andres561

Together

Bagaimana Anak Balita Belajar
Anak-anak, terutama balita, belajar melalui aksi fisik. Sebagaimana mereka memainkan obyek dan beraksi pada lingkungannnya, mereka membangun pengetahuan dengan mengkoordinasikan pengalaman indera dan aksi fisiknya.

Anak-anak penuh dengan keingintahuan. Mereka mengeksplorasi segala hal dalam lingkungannya dengan antusias. Mereka terlibat secara total pada masa ini dan bisa menghabiskan tenaga, menuntut, dan menyenangkan.

Tiap anak mempunyai minat yang berbeda-beda. Karena itu, sulit untuk mengetahui apa yang menarik perhatiannya. Bagaimanapun, mereka membutuhkan keamanan yang kuat yang berdasarkan pada dukungan akan emosi, intelektual, dan petualangan fisiknya. Mereka membutuhkan pembentukan hubungan yang dekat dan melekat dengan orang tuanya. Dalam tambahan, adalah selalu penting untuk menyeimbangkan kegiatan baru dengan beberapa kegiatan yang repetitif (berulang-ulang). Hal ini akan membuat anak merasa aman dan membolehkan mereka untuk melanjutkan bereksplorasi dalam suasana yang nyaman dan familiar.

Dalam merencanakan kegiatan untuk anak-anak, penting untuk mempertimbangkan lamanya kegiatan, kesederhanaan bahasa, kemurnian gambaran, tipe dan variasi perlengkapan, dan beberapa pengulangan ketika berinteraksi dengan mereka. Orang tua perlu memahami kapasitas kognitif anak, emosi dan perkembangan fisiknya sehingga mereka tidak merasa frustasi atau tak tertarik. Dalam tambahan bahwa penting juga untuk tidak membuat asumsi mengenai perilaku mereka yang mirip dengan orang dewasa. Misalnya, kalau mereka melakukan suatu hal sekali waktu, bukan berarti mereka benar-benar mampu melakukannya lagi.

Kegiatan Berbahasa
Komponen kegiatan berbahasa untuk Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris adalah cara yang menyenangkan dan efektif dalam meningkatkan kosa kata anak-anak melalui lagu, cerita, dan permainan. Adalah juga ditujukan pada perkembangan pendengaran (listening) sebaik kemampuan diskriminasi visual. Seperti juga bahasa merupakan kegiatan sosial. Anak-anak belajar berinteraksi dengan teman sebaya dan orang dewasa dan mengembangkan kemampuan sosial dan komunikasinya.

Berikut ini kosa kata awal yang bisa dipelajari oleh anak usia 1 tahun melalui ala “mainan” (toys):
Pada Minggu 1, ajak anak mengidentifikasi bagian-bagian tubuh. Seperti hands, arms, knees, feet. Kegiatan yang dapat dilakukan adalah ajak anak untuk menunjuk tangan, lengan, lutut dan kaki. Kita bisa mengatakannya dalam bahasa Inggris; “Where is your hands/ arms / knees / feet?” Kemudian kita bisa mengajak mereka melakukan gerakan-gerakan berikut sambil kita mengatakan: “Clap your hands./ Swing your arms./ Bend your knees/ Stamp your feet.”

Di minggu kedua lakukan hal serupa dengan kosa kata: head, shoulder, body. Ajak anak menggerakan anggota tubuh yang kita sebutkan.

Pada Minggu ketiga: gunakan gambar muka yang tak lengkap. Kosa kata yang diajarkan adalah: nose, eyes, mouth, ears, hair. Kita bisa melakukan hal serupa dengan kegiatan minggu pertama dan kedua, atau bisa melakukan kegiatan mewarnai atau menempel hidung, mata, mulut, telinga, dan rambut pada sebuah gambar wajah yang tak lengkap tersebut.

Yang perlu diingat adalah kita sebaiknya mengulang-ulang kosa kata yang telah diajarkan pada minggu-minggu selanjutnya.

Kemudian kita juga bisa mulai menyebutkan benda-benda yang ada di sekitar rumah, terutama yang biasa digunakan atau dilihat oleh anak dalam bahasa Inggris. Diantaranya adalah: table, chair, toys, bag, book, cupboard, drawer, spoon, bowl, bed, ball, box, milk, biscuit, porridge, pants, shoes, dress, T-Shirt, water, fruit, car, dan lain-lain. Orang tua dapat menemukan kata-kata apa saja yang sehari-hari dilihat atau ada di sekitar rumah. Yang perlu diketahui adalah bahwa kata-kata tersebut diperkenalkan sambil melakukan aktivitas apa saja, atau sambil bermain.

Berbagai permainan yang bisa dilakukan sambil memperkenalkan anak kepada bahasa Inggris misalnya dengan bola. Ajak anak mengambil bola dengan mengatakan, “Pick up the ball,” atau “Get the ball.” Akan semakin baik apabila setelah bermain, untuk mengajak anak menanyakan benda apa itu dalam bahasa Inggris. Terlebih lagi kita bisa sekaligus mengajarkan warna dari bola tersebut.

Anak-anak sangat tertarik akan binatang atau makhluk hidup lainnya seperti tanaman bunga. Hal ini pun juga merupakan kesempatan bagi orang tua untuk memperkenalkan kata-kata dalam bahasa Inggris. Misalnya, cat, dog, flower, leaf, garden, ants, dan sebaginya. Jangan lupa bahwa anak selalu tertarik dengan bunyi dari binatang-binatang, atau gerakan mereka. Orang tua bisa bermain dengan gerakan binatang atau menirukan suaranya.

Begitu banyak hal yang bisa dijarkan kepada anak tanpa kita sadari. Apalagi jika kita mengajak anak keluar rumah. Kita bisa mengajarkan kata-kata seperti cloud, rain, sun, star, moon, dll. Terakhir yang tidak boleh ketinggalan adalah untuk membiasakan anak mendengar kata-kata good morning, thank you, atau please.

Kreativitas dan imajinasi orang tua cukup menentukan dalam aktivitas belajar sambil bermain dengan anak. Jika memang pendidikan kepada anak ini dimulai dari sejak dini di dalam keluarga, maka tidak akan terbayangkan apa yang bisa dilakukan oleh generasi mendatang.

(Erri Subakti)

MENDIDIK ANAK SEDARI DINI

LearnMendidik anak sedari dini di rumah? Kenapa tidak. Kita para orang tua bisa memulainya asalkan kita mengetahui dan memahami apa-apa saja yang bisa disampaikan kepada anak dan tolok ukur keberhasilan pendidikan kita.

Sesungguhnya dalam mendidik anak tidak pernah ada target tertentu yang harus di capai. Ingat, setiap anak itu unik dan berbeda-beda. Tuhan telah menciptakan anak dengan instalasi yang luar biasa beragam. Tidak semua anak dilahirkan dengan otak seperti Einstein. Bahkan susu formula secanggih apa pun tidak bisa membuat anak menjadi pintar! Karena otak itu genetik. Jika Tuhan meng-install kemampuan berhitung kepada anak tersebut, barulah mungkin dia bisa sepintar atau bahkan mengalahkan Einstein, misalnya. Karena itu kita para orang tua harus bisa mengenal instalasi apa yang ada di dalam diri anak kita.

Pada usia sembilan bulan sampai dengan 1 setengah tahun otak manusia mengalami masa keemasan atau masa puncak dalam menyerap segala pengetahuan. Kita bisa mengajarkan apapun kepada anak. Bahkan mengajarkan membaca pun bisa. Namun kita harus selalu ingat bahwa buat kegiatan belajar yang kita lakukan harus selalu menyenangkan. Kalau pun si anak tidak mau, biarkan dan jangan dipaksa. Dan juga yang terpenting adalah bagaimana prosesnya bukan kepada hasilnya. Misalkan saja jika kita mengajarkan mengenal huruf, bukan berarti si anak nanti akan langsung bisa mengetahui huruf-huruf yang kita ajarkan. Namun proses pengajaran itu yang membuat otaknya melakukan “pemanasan” dan mulai bekerja atau berlatih menyerap pengetahuan. Seperti halnya otot yang akan membesar dan kuat jika selalu dilatih.

Untuk itu jangan sampai disia-siakan masa keemasan (golden age) ini. Bagaimana kita memulainya? Untuk memulai dengan awalan yang baik (good headstart), pertama-tama perkenalkan anak kepada dirinya sendiri. Misalnya memperkenalkan nama-nama bagian tubuh, satu per satu. Kemudian perkenalkan anak dengan keluarganya. Dan mungkin yang terpenting, anak juga dapat mulai mengenal tuhannya. Mengenal diri sendiri menjadi penting karena dari diri sendiri kita memulai segala sesuatu. Dengan selalu mengenal diri sendiri, mungkin si anak kelak tidak akan lupa diri. Sedangkan keluarga adalah lembaga utama dalam pendidikan anak. Perilaku anak banyak ditentukan dari lembaga utama ini. Dan Tuhan ialah yang terpenting karena dari Dialah kita semua berasal dan kepada-Nyalah kita akan kembali.

Memahami Anak usia 9 bulan – 1 setengah tahun.
Sebelumnya kita perlu untuk mengetahui beberapa karakteristik dasar dari anak usia dini untuk memenuhi kebutuhan perkembangannya. Hal ini tidak hanya meningkatkan hubungan orang tua dan anak namun juga memungkinkan orang tua untuk memainkan peran sebagai guru.

Karakteristik anak usia dini:
• Tak pernah lelah ingin tahu dan semangat untuk bereksplorasi
• Menunjukkan tekad dalam ketekunan untuk bisa dan menguasai jauh melebihi kemampuan
• Senang meniru
• Sangat antusias akan sesuatu yang menarik minatnya
• Menunjukkan keterlibatan total untuk sementara waktu
• Dapat menjadi tidak kooperatif
• Egosentris
• Posesif
• Terkadang menunjukkan kurang bisa mengendalikan diri
• Terkadang mengadopsi sikap orang dewasa yang tak butuh pertolongan
• Terkadang menunjukkan emosi yang berubah-ubah.

Tahapan Perkembangan
Anak usia 9 bulan sampai 1 setengah tahun mengalami perkembangan pertumbuhan yang dramatis. Mereka berada pada masa perubahan perkembangan yang cepat. Akan banyak berbagai aktivitas yang bervariasi melintasi kemampuan dan usia, seperti tersebut di bawah ini:

• Berjalan tanpa terjatuh
• Berjalan ke atas dan ke bawah di tangga dengan pertolongan orang dewasa
• Berjalan mundur dan miring
• Melompat di tempat sekali
• Menendang bola yang besar
• Melempar bola yang kecil
• Menunjukan tangan
• Membuat coret-coretan melingkar
• Memegang dua benda dalam satu tangan
• Membuka ritsleting
• Mencuci dan mengeringkan tangan dengan bantuan
• Makan sendiri
• Membuka baju sendiri
• Meniru orang dewasa, mengkopi kegiatannya dan senang memakai pakaian orang dewasa
• Tidak ingin membagi kepunyaannya
• Senang bermain dengan teman seusia
• Senang irama musik, menari, berayun
• Sering menggunakan kata “tidak/jangan”
• Menggunakan satu-dua kata untuk meminta
• Bertanya “Apa? / Apa itu?”
• Mengidentifikasi benda-benda yang familiar dan gambar-gambar di buku.

Kegiatan
Kegiatan yang dapat dilakukan orang tua untuk anak pada masa awal 9 bulan sampai 1 setengah tahun mengenai “Diri Sendiri,” yaitu sebagai berikut:
1. Menyanyikan lagu-lagu mengenai bagian-bagian tubuh. Misalnya: Dua mata saya, yang kiri dan kanan, satu mulut saya tidak berhenti makan. Atau “Kepala, pundak, lutut, kaki. Daun telinga, mata , hidung, dan mulut…” dst.
2. Tanyakan pada anak untuk menunjukan mana tangannya, kakinya, mata, hidung, dsb. Atau katakan pada anak, “Ini hidung mama. Mana hidungmu?” Lakukan ini untuk bagian tubuh lainnya.
3. Melakukan gerakan-gerakan bertepuk tangan, mengayunkan tangan, menekuk lutut, dan menginjak bumi, dengan irama musik / lagu.
4. Ajak anak untuk menggerakkan tubuhnya dengan berbagai cara di depan cermin. Tentu dengan contoh dari orang tua. Misalnya; menyentuh kepala, menepuk pundak sendiri, menekuk lutut, atau berputar.
5. Anak menempel gambar mata pada sebuah gambar wajah yang tak ada matanya.
6. Permainan “melihat.” Misalnya orang tua berkata, “Lihat meja.” Kemudian anak melihat meja tersebut. Atau bahkan menunjuk dan menyentuhnya.
7. Hand printing/ foot printing. Letakan cat asturo pada sebuah wadah seperti mangkok, dan ajak anak memasukan telapak tangannya ke dalam wadah tersebut. Biarkan dia merasakannya. Dan siapkan selembar kertas atau karton, kemudian tempelkan kedua telapak tangannya pada kertas/karton tersebut. Lakukan hal yang sama dengan kakinya di lain waktu. Setelah kering, telapak tangan dan kaki anak bisa digunting dan di pajang di kamarnya. Akan lebih cantik jika sebelumnya dihias dulu menjadi berbentuk, kupu-kupu, bunga, burung, bebek, dll. Sesuai imajinasi kita sendiri.
8. Hand tracing/foot tracing. Pada dasarnya kegiatan ini hampir sama dengan kegiatan no. 7, namun tidak memerlukan cat. Orang tua hanya menggambar telapak tangan atau kaki anak di selembar kertas atau karton, setelah mengajak anak meletakkan tangann atau kakinya pada kertas/karton tersebut. Kemudian ajak anak mewarnai telapak tangan atau kakinya tersebut. Selanjutnya lakukan seperti no. 7, yaitu menghias dan memajang hasilnya.
Kegiatan no 7 ini tidak terbatas untuk telapak saja, tapi juga bisa menggunakan bagian tubuh yang lainnya seperti jari.

Untuk mengenal keluarga, kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan adalah:
1. Ajak anak berekreasi sekeluarga
2. Buat boneka sederhana dengan karakter ayah, ibu, dan anak. Yang paling sederhana adalah dengan menggambar mata, alis, hidung, dan mulut pada ibu jari kita, dan perkenalkan kepada anak bahwa itu seorang ibu. Kemudian gambar mata, hidung, mulut dan kumis, dan katakan pada anak bahwa itu seorang ayah. Lalu gambarkan pula mata, hidung, dan mulut pada jari kelingking, dan katakan bahwa itu anaknya. Pada jari yang lain juga bisa dilakukan hal serupa.
3. Menggunakan foto anggota keluarga, dan tanyakan kepada anak siapa saja yang ada di foto tersebut.
4. Mengajak anak menyanyikan lagu-lagu bertema keluarga.
5. Mewarnai gambar sebuah keluarga.

Untuk mengenal Tuhan, tiap-tiap keluarga pasti akan berbeda-beda. Tapi yang terpenting adalah bahwa di setiap kegiatan yang kita lakukan bisa dimulai dan diakhiri dengan berdoa. Yang paling mudah adalah dengan memberitahukan bahwa matahari, bulan, bintang, tumbuhan, binatang, alam semesta beserta isinya adalah ciptaan Tuhan, dan milik Tuhan. Ajak anak ke tempat ibadah. Biarkan dia melihat kita beribadah kepada Tuhan. Ajarkan anak berterima kasih atau bersyukur kepada Tuhan.

Semoga tulisan singkat ini dapat bermanfaat bagi para orang tua.

(Erri Subakti)

Salam

Terbentuknya para pengajar yang mampu memaksimalkan potensi yang ada, diharapkan dapat memberi jalan keluar bagi banyaknya permasalahan yang dihadapi komunitas. Selanjutnya, dengan pembinaan yang terencana, berkesinambungan dan terarah, mereka akan mampu mengembangkan wawasan dan keterampilan dalam berbagai aspek kehidupan, sehingga pada akhirnya dapat melakukan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi diri dan lingkungannya.

Pendidikan mutu terpadu yang berkelanjutan sudah semestinya menjadi tanggungjawab kita bersama, baik profesional, pengusaha, tenaga pendidik, aktivis sosial maupun masyarakat pada umumnya. Untuk itu setiap aktivitas pemberdayaan pendidikan perlu mendapat dukungan, baik dukungan moril, materiil,  kesempatan, maupun dana. Sehingga apa yang diselenggarakan dapat berhasil dan berdaya guna bagi kemajuan masyarakat, bangsa dan negara.